Cari Blog Ini

Breaking News

Kail, Kopi, dan Ketuhanan: Belajar Sederhana dari Tuan Guru KH. Sholahuddin Syargawi al-Qodiri


*Oleh: Fajri Al Mughni

Sebentar, tulisan ini memang agak panjang, kawan. Aku tahu kau tergesa-gesa, tapi coba bacalah dulu pelan-pelan, macam menyeruput kopi panas waktu sahur.


Di tepian Kumpeh yang tenang, di antara angin yang membawa bau tanah dan doa-doa santri yang terbang ke langit, berdiri Pondok Pesantren Kumpeh Daaru Attauhid (KDT).


Pesantren itu bukan sekadar bangunan tempat orang mengaji. Ia adalah rumah jiwa. Tempat orang belajar bukan cuma membaca kitab, tapi juga membaca diri sendiri.


Dan di tengahnya berdiri seorang guru yang namanya disebut dengan hormat dan cinta: Tuan Guru KH. Sholahuddin Syargawi al-Qodiri.


Orang sering menyangka, makin tinggi ilmu seseorang, makin tinggi pula pagar yang dibangunnya. Ilmu seolah jadi menara gading, makin naik, makin jauh dari tanah.


Tapi tidak begitu dengan Tuan Guru.


Pada beliau, ilmu bukan menara. Ia jembatan.

Bukan untuk meninggi, tapi untuk menyambung.

Tanpa sekat. Tanpa protokol yang bikin orang serba salah duduk.


Beliau sederhana. Sungguh sederhana.


Pakainya bersahaja. Tutur katanya ringan, jelas, terus ke inti, tapi tak pernah menikam. Wajahnya ramah. Senyumnya hangat. Bila berbicara, tidak ada nada menggurui yang membuat orang merasa kecil.


Yang ada hanya rasa akrab.

Macam ayah kepada anak.

Macam sahabat kepada sahabat.


Entah sudah berapa kali aku berkunjung ke KDT dan bertemu beliau. Setiap datang, aku dan kawan-kawan dijamu habis-habisan. Bukan sekadar disuguhi makan, tapi dimuliakan.


Rasanya macam tamu kehormatan. Padahal kami ini, kalau ditimbang dari pangkat dan harta, mungkin cuma berat di niat saja.


Meja makan selalu penuh berkah.


Ikan gorengnya aduhai, garing di luar, lembut di dalam.

Sambal matahnya tiada lawan, pedasnya menari tapi tak menyakiti.

Lalapannya segar, spektakuler dalam kesederhanaan.


Dan kopinya, ah, kopinya itu macam jenggot.

Cukur sekali, tumbuh lagi.


Habis satu cangkir, datang lagi yang berikutnya. Seolah percakapan tak boleh berhenti hanya karena gelas kosong.


Awalnya kupikir kami diperlakukan istimewa. Tapi ketika kutanya pelan-pelan pada santri dan tamu lain, jawabannya membuatku terdiam:


“Semua tamu diperlakukan begitu.”


Tidak ada yang dibedakan.

Tidak ada yang diutamakan karena pangkat.

Tidak pula diperlambat karena dompet tipis.


Di situlah aku paham.

Jamuan itu bukan soal makanan.

Itu soal hati.


Tuan Guru bukan pribadi eksklusif.

Pintu rumahnya terbuka.

Pintu pesantrennya terbuka.

Pintu hatinya lebih luas dari cakrawala.


Petani, pedagang, mahasiswa, pejabat publik, sampai tokeh-tokeh besar, semuanya duduk sama rendah. Berbicara sama santun. Tidak ada kursi khusus yang ditinggikan agar terlihat penting.


Padahal kalau bicara kapasitas keilmuan, beliau bukan orang sembarangan.


Kemampuan akademis dan keislamannya matang. Kajiannya selalu ramai. Orang datang bukan cuma untuk dengar ceramah, tapi untuk meneguk makna.


Yang dibahas bukan sekadar perkara yang membuat telinga senang lima belas menit lalu lupa lima detik kemudian. Yang dibahas adalah hakikat. Ketuhanan. Jalan jiwa menuju Tuhan.


Kajian beliau adalah sufi dan ketuhanan. Tenang tapi dalam. Tidak meledak-ledak, tapi meresap. Tidak membakar, tapi menghangatkan.


Sesekali, jika disimak dengan cermat, beliau sangat paham tasawuf falsafi. Bicara tentang wujud, makna keberadaan, hubungan hamba dengan Yang Maha Ada. Tapi disampaikan dengan bahasa bumi. Bahasa warung kopi. Bahasa yang bisa dimengerti yang awam tanpa merasa dikeluarkan dari majelis.


Inilah kecerdasan yang langka:

Berpikir tinggi tanpa membuat orang lain merasa rendah.


Di pesantren itu ada dua danau besar.

Airnya tenang, memantulkan langit. Kadang biru, kadang kelabu mengikuti cuaca. Di tepinya santri berjalan, duduk, mengulang hafalan, atau sekadar memandangi riak yang pelan.


Suatu ketika Tuan Guru berkata, dengan logat Melayu yang lembut:

“Kito harus terus berdampingan dengan alam, terutama dengan air dan sungai.”


Kalimatnya sederhana. Tapi dalamnya bukan main.


Air mengalir tanpa sombong.

Sungai memberi tanpa meminta tepuk tangan.

Dan manusia, bila dekat dengan alam, belajar rendah hati.


Oh ya, ada satu kisah lagi.

Di dua danau itu, ikannya banyak. Besar-besar pula. Beragam jenis. Banyak orang mengaku hebat memancing datang dengan penuh percaya diri.


Umpan terbaik dibawa.

Teknik paling mutakhir dipamerkan.

Gaya foto siap unggah ke media sosial.


Tapi anehnya, sekali turun, ikan-ikan seperti tak berminat. Kail sering kembali kosong. Kalau disentuh pun, cuma dicicipi lalu ditinggalkan.


Tapi bila Tuan Guru yang melempar pancing, suasana berubah.

Tak lama, ikan-ikan berebut memakan umpan. Satu naik. Lalu satu lagi.


Kami yang menyaksikan cuma bisa senyum-senyum. Andai saja itu Sobirin, mungkin bang Mansur sudah menyumpah nasib.


Dengan tenang beliau berkata:

“Alhamdulillah dapat lagi, jadilah pengenak kopi.”


Tak ada nada pamer.

Tak ada gestur kemenangan.


Seolah itu biasa saja.

Padahal bagi kami, itu bukan sekadar soal memancing. Barangkali bukan teknik. Mungkin soal hati. Soal niat. Soal hubungan yang baik dengan alam.


Beliau tidak menjadikan tasawuf melayang di langit teori. Ia membumikan tasawuf.


Dalam cara memandang air.

Dalam cara menjamu tamu.

Dalam cara melempar pancing.


Segala sesuatu menjadi zikir.

Segala peristiwa menjadi syukur.


Kesederhanaan Tuan Guru bukan strategi pencitraan. Ia bukan sikap yang dibuat untuk kamera. Ia karakter yang tumbuh dari keyakinan bahwa kemuliaan bukan pada tampilan, tapi pada manfaat.


Dari beliau, kita belajar:

Pesantren bukan hanya tempat menghafal kitab.

Ia tempat membentuk jiwa.


Guru bukan sekadar penyampai materi.

Ia penunjuk arah hidup.


Dan menjadi besar tidak harus terlihat tinggi.

Di zaman ketika banyak orang sibuk terlihat penting, Tuan Guru memilih untuk berguna. Di saat sebagian orang membangun pagar tinggi agar terlihat eksklusif, beliau justru membuka pintu selebar-lebarnya.


Mungkin di situlah rahasianya:

Kesederhanaan yang tulus selalu lebih kuat daripada kemegahan yang dibuat-buat.


Pondok Pesantren Kumpeh Daaru Attauhid berdiri bukan hanya karena bangunannya. Tapi karena ruh yang dihidupkan pendirinya.


Ruh kesederhanaan.

Ruh keterbukaan.

Ruh ilmu yang tak sombong.

Ruh tasawuf yang tidak melangit sendirian, tetapi turun menyapa kehidupan, hingga ke tepi danau, pada kail yang dilempar pelan, dan kopi yang menghangatkan percakapan.


Semoga Allah menjaga Tuan Guru KH. Sholahuddin Syargawi al-Qodiri dalam kesehatan dan keberkahan.


Dan semoga kita belajar satu hal sederhana:

Bahwa jalan menuju Tuhan tidak selalu harus gaduh.

Kadang ia hadir dalam kail yang tenang,

kopi yang hangat,

dan hati yang lapang. (*) 


*Fajri Al Mughni

Pendiri Kalam Literasi Indonesia

0 Komentar

© Copyright 2022 - Leadberita.com