Cari Blog Ini

Breaking News

Munajat Gelisah Para Nasabah. Bank Jambi berfatwa; “Sistem diretas”

 


*Oleh : Fajri Al Mughni

Aku ikut cemas, kawan. Bank Jambi katanya diretas. Dibobol maling. Hilang selera ku mencari takjil sore ini. Katanya lagi, banyak nasabah tak bisa akses kartu ATM, mobile banking lumpuh, bahkan ada bisik-bisik uang hilang begitu saja.


Kabar itu berputar-putar. Dari grup WhatsApp ibu-ibu sampai tongkrongan bapak-bapak yang diributkan bukan soal harga barang, tapi bab Tabungan.


Dan tabungan, bukan perkara ringan kanti. Ia bukan sekadar angka. Ia keringat. Ia lembur. Ia hasil sawah. Ia honor proyek yang belum tentu cair tepat waktu.


Maka ketika akses ATM tak bisa dibuka, mobile banking tak mau menyala, dan mesin EDC seperti masuk masa iddah. Keresahan itu bukan dibuat-buat. Ia lahir dari rasa takut yang sangat logis: “Duit aku cemano?”


Pihak bank pun angkat suara. Dengan nada tenang dan wajah profesional, mereka berkata,

“Bapak ibu tenang saja, uangnya aman kok. Andai memang dibobol, bank akan bertanggung jawab penuh.”


Kalimatnya rapi. Menenangkan. Terukur. Tapi di dalam hati nasabah, ada suara kecil yang menjawab pelan, “Awas saja kalau dipersulit.”


Begitulah hubungan bank dan nasabah. Secara resmi penuh kepercayaan. Secara batin penuh kewaspadaan. Sampai hari ini, yang jadi pertanyaan bukan lagi sekadar: “Diretas atau tidak?”


Tapi: “Kalau iya, seberapa dalam?” Dan kalau bukan, “kenapa sistemnya bisa goyah?”


Karena di zaman ini, kata “diretas” sering jadi jawaban instan untuk segala yang tak berjalan mulus. Server lambat? Diretas. Sistem mati? Diretas. Data bocor? Diretas. Tidak puasa? Diretas. 


Padahal kadang bukan diretas. Cuma diremehkan. Diremehkan soal keamanan.

Diremehkan soal tata kelola. Diremehkan soal kewaspadaan.


Dan yang lebih membuat orang mengerutkan dahi: apakah ini murni soal teknologi? Atau “politik” mulai bergerak terang-terangan hingga ke jantung basah?


Sebab kita tahu, bank bukan cuma tempat simpan uang. Ia simpul ekonomi. Ia saraf keuangan. Ia pusat aliran dana yang tak hanya menghidupi rakyat kecil, tapi juga proyek-proyek besar dan kepentingan yang tak selalu kecil.


Maka ketika sistemnya goyah, pertanyaan pun melebar. Apakah ini sekadar gangguan teknis? Atau ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kabel dan server?


Masyarakat resah, dan itu wajar. Sebab kepercayaan kepada bank bukan dibangun dalam sehari. Tapi runtuhnya bisa dalam semalam. Yang menarik, di negeri ini, seringkali rakyat diminta tenang sebelum penjelasan benar-benar terang. Diminta percaya sebelum fakta benar-benar dibuka.


“Tenang saja.”

“Masih aman.”

“Sedang ditangani.”


Ini untaian dongeng pengantar tidur siang di bulan Ramadhan. Lagu lama, hanya nadanya yang berubah, liriknya itu-itu saja.


Padahal masyarakat hari ini bukan masyarakat yang bisa ditidurkan dengan kata “tenang”. Mereka punya gawai. Mereka punya grup diskusi. Mereka punya daya curiga yang tumbuh seiring pengalaman.


Dan pengalaman mengajarkan satu hal: Masalah kecil yang tidak dijelaskan dengan jujur akan tumbuh menjadi rumor besar yang tak terkendali.


Kalau memang diretas, katakan diretas. Kalau ada kebocoran, jelaskan kebocorannya di mana. Kalau sistem lemah, akui kelemahannya dan perbaiki dengan terbuka. Karena dalam dunia perbankan, yang paling mahal bukan gedungnya. Bukan logonya. Tapi kepercayaan.


Sekali retak, ia tak mudah direkat.


Nasabah tak menuntut kesempurnaan. Mereka paham teknologi bisa gagal. Sistem bisa tumbang. Tapi yang tak bisa diterima adalah ketidakjelasan. Sebab di ujung semua ini, yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi bank, tapi rasa aman masyarakat.


Dan bila benar ada unsur lain, entah kelalaian, entah kepentingan, entah “politik yang bergerak”, maka itu jauh lebih berbahaya dari sekadar hacker.


Hacker bekerja diam-diam dari luar. Politik yang masuk ke jantung basah bekerja dari dalam. Dan yang dari dalam, biasanya lebih susah dilawan. Kata kawanku, “makan dalam”.


Kini masyarakat menunggu. Menunggu penjelasan yang jernih, bukan sekadar pernyataan normatif. Menunggu langkah konkret, bukan sekadar janji administratif.


Karena uang boleh disimpan di bank. Tapi kepercayaan tidak.

Ia tinggal di hati. Dan hati, kalau sudah curiga, tak mudah diyakinkan hanya dengan kalimat: “Tenang saja.”


Maka Bank Jambi, atau siapa pun yang memegang amanah publik, perlu memahami satu hal sederhana: Keamanan sistem bisa diperbaiki dengan teknologi. Tapi keamanan rasa hanya bisa diperbaiki dengan kejujuran.


Dan nasabah, dalam hati kecilnya, masih menyimpan satu kalimat yang tak pernah diucapkan keras-keras: “Amanlah, uang kami. Tapi kalau sampai dipersulit, kami pun tahu cara bersuara.”

Di negeri ini, suara rakyat memang kadang pelan. Tapi bila sudah menyatu, ia bisa lebih keras dari alarm server mana pun.


(*) Fajri Al Mughni

Pendiri Kalam Literasi Indonesia

0 Komentar

© Copyright 2022 - Leadberita.com