Cari Blog Ini

Breaking News

PMH di Bumi Serentak Bak Regam: Saat Kopi Dingin Diganti Gugatan Panas

 


*Penulis OPINI : Fajri Al Mughni

Sekretaris Daerah Kabupaten Batang Hari diadukan ke meja hijau. Bukan meja rapat, bukan meja makan, tapi meja hijau yang kakinya empat dan saksi-saksinya tak pandang bulu. Yang mengadukan? Muhammad Fadhil Arief. Sang Raja Batang Hari.

Ini bukan drama cina yang tayang sebentar lalu harus bayar untuk lanjutannya, ini perkara resmi dengan nomor yang tak kalah gagah dari nomor polisi kendaraan dinas: 9/Pdt.G/2026/PN MBN, didaftarkan Selasa, 10 Februari 2026. Tuduhannya? Perbuatan Melawan Hukum. PMH. Singkat, padat, tapi gaungnya bisa lebih luas dari sekadar janji banyak Bupati.

Namun jangan kira ini duel satu lawan satu macam silat di acara balarak. Tidak, tuan-tuan dan puan-puan. Yang terseret bukan hanya Sekda seorang diri. Dua institusi strategis ikut digandeng ke gelanggang; Badan Keuangan Aset Daerah (Bakeuda) dan Inspektorat Daerah Batang Hari

Lengkap sudah. Eksekutif, pengawas, dan pengelola duit, semuanya dalam satu lembar gugatan. Ini bukan sekadar perkara; ini seperti drama birokrasi yang tiba-tiba berubah genre menjadi legal thriller. Horor.

Sekarang mari kita duduk sebentar. Tarik napas. Bayangkan. Lalu senyum simpul.

Seorang Bupati menggugat Sekdanya sendiri. Di negeri Melayu, yang santunnya dijaga seperti pusaka turun-temurun, ini tentu bukan perkara kecil. Biasanya beda pendapat diselesaikan dengan kopi pahit dan rapat tertutup. Tapi kali ini, kopi mungkin sudah dingin, rapat mungkin sudah buntu, dan hukumlah yang diminta bicara.

Apakah ini soal administrasi yang dianggap tak lagi administrasi? Apakah ini soal kewenangan yang berasa melampaui batas? Atau sekadar tafsir aturan yang berbeda antara yang merasa berkuasa dan yang merasa benar? Atau hanya karena berbeda soal rasa kopi? Atau jangan-jangan karena tak kebagian gulai terjun?

Kita belum tahu. Dan justru di situlah nikmat dramanya. Tambah kopi mu kanti. 

Sampai hari ini, isi gugatan dan petitumnya masih tersembunyi rapat di balik sistem SIPP PN Muara Bulian. Publik hanya bisa menebak-nebak, “ngiro-ngiro” seperti membaca novel yang halaman klimaksnya disobek sebelum sampai ke tangan kita.

Sidang perdana dijadwalkan Selasa, 24 Februari 2026, pukul 09.00 WIB. Jam yang sama ketika biasanya orang sibuk tanda tangan disposisi atau memeriksa SPJ. Tapi kali ini, tanda tangan akan diganti dengan dalil, dan SPJ diganti dengan argumentasi hukum.

Di ruang sidang nanti, kata-kata akan ditimbang bukan dengan emosi, melainkan logika. Dalil akan diuji, bukti akan dibedah. Dan kita semua, rakyat, pegawai, pengamat warung kopi akan menunggu: siapa yang sekadar bersuara, dan siapa yang benar-benar punya dasar.

Satire kadang lahir dari kenyataan yang terlalu nyata. Pahitkan lagi kopi mu kawan.

Di satu sisi, ini bisa dibaca sebagai bukti bahwa hukum masih jadi jalan. Bahwa bahkan dalam satu atap pemerintahan, jika ada yang dianggap melenceng, meja hijau bukan barang tabu. Itu sehat, kata orang-orang yang optimis. Itu jahat, kata orang-orang yang sinis.

Di sisi lain, ini juga mengundang senyum miring, senyum tak tahu adat; apakah koordinasi sudah setipis kertas gugatan? Apakah komunikasi telah kalah oleh registrasi perkara?

Bumi Serentak Bak Regam kini seperti panggung besar. Tirai belum sepenuhnya terbuka, tapi lampu sudah menyala terang. Kita menunggu adegan pertama dimulai.

Dan ketika palu hakim diketuk, barulah kita tahu: ini sekadar riak dalam kolam birokrasi,

atau ombak yang akan mengubah garis pantai Batang Hari. Anda saja yang tak paham gaya politik. Bisa jadi, ini benar-benar drama yang kadang tak logis dengan kehidupan nyata. Entahlah kanti. Jangan buru-buru habiskan kopi mu.

Sementara itu, mari kita halu sedikit, membayangkan bagaimana rasanya menjadi lalat kecil di dinding ruang sidang nanti. Mendengar argumen berbalas argumen, melihat wajah-wajah serius yang biasanya hanya kita lihat di baliho dan spanduk resmi.

Sebab dalam negeri yang katanya santun, ketika hukum berbicara, semua gelar dan jabatan akan duduk sama rendah di hadapan fakta. Dan itulah bagian yang paling menarik.

Kita tunggu. Sekarang, habiskan lah kopimu. Nanti kau buat lagi yang baru.  (*) 



*NB : Opini merupakan tanggung jawab mutlak penulis. Tak termasuk tanggung jawab dan hak jawab media ini. 

0 Komentar

© Copyright 2022 - Leadberita.com