Penulis Opini : Fajri Al Mughni
Jujur saja wak.
Kamu sebenarnya malas bertemu Ramadhan, kan?
Santailah. Tidak usah pura-pura kaget. Hati kita kadang lebih jujur daripada status WhatsApp yang penuh ayat dan poster marhaban ya Ramadhan.
Ramadhan itu bulan suci. Tapi bagi sebagian orang, ia juga bulan evaluasi. Dan evaluasi adalah hal yang paling dihindari oleh kaum pemalas. Iya kan? Jangan mengelak kau wak.
Ramadhan datang membawa disiplin.
Bangun sebelum subuh.
Menahan lapar.
Menahan emosi.
Menahan komentar pedas di kolom media sosial.
Banyak yang kau tahan, tapi joget-joget teruskan saja.
Bagi yang hidupnya sudah tertata, Ramadhan itu tamu mulia.
Bagi yang hidupnya masih berantakan, Ramadhan itu seperti honorer lintang pukang kerja, tapi gajinya dikit.
Kaum pemalas serba salah menghadapi Ramadhan.
Tidak puasa, malu.
Puasa, lemas.
Tarawih, mengantuk.
Tidak tarawih, merasa bersalah.
Mau berubah, berat.
Tidak berubah, takut.
Mereka ingin pahala, tapi tak mau lelah.
Ingin surga, tapi masih betah dengan rebahan.
Mentang-mentang rebahan di Ramadhan, ibadah.
Padahal Ramadhan tidak pernah meminta kita jadi malaikat.
Ia hanya meminta kita berhenti jadi manusia yang terlalu banyak alasan.
Kita sering bilang, “Nanti saja tobatnya.”
Ramadhan datang membawa jawaban: “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”
Lucunya, setiap tahun kita berdoa, “Ya Allah, sampaikanlah kami ke Ramadhan.”
Begitu sampai, kita malah sibuk menghitung jam buka, bukan menghitung dosa.
Ramadhan itu cermin.
Dan tidak semua orang suka bercermin.
Di bulan lain, kita bisa berdalih.
Kerja banyak.
Waktu sempit.
Lingkungan tidak mendukung.
Di Ramadhan?
Semua alasan terdengar lebih tipis dari kulit bawang.
Jujur sajalah wak.
Yang kamu takuti bukan puasanya.
Bukan lapar atau hausnya.
Yang kamu takuti adalah perubahan.
Karena perubahan artinya keluar dari zona nyaman.
Dan zona nyaman adalah kasur empuk bagi jiwa-jiwa yang menunda. Lemah.
Ramadhan itu tegas.
Ia datang tanpa negosiasi.
Ia pergi tanpa kompromi.
Ia tidak peduli kamu siap atau tidak.
Ia hanya bertanya: kamu mau jadi lebih baik atau tetap begitu-begitu saja?
Kaum pemalas sering berkata, “Ramadhan cepat sekali berlalu.” Ah pembual.
Padahal yang cepat berlalu itu bukan Ramadhannya.
Tapi kesempatan memperbaiki diri yang tidak mereka sentuh.
Mari jujur sebentar wak.
Kalau hatimu terasa berat menyambut Ramadhan, mungkin bukan Ramadhannya yang salah.
Mungkin karena kamu tahu, ada yang harus kamu tinggalkan.
Malas.
Lalai.
Menunda.
Ramadhan bukan beban.
Ia kesempatan.
Dan kesempatan tidak selalu datang dua kali dengan wajah yang sama.
Jadi, kalau enggan, akui saja.
Sebab Ramadhan tidak butuh orang yang sempurna.
Ia hanya butuh orang yang mau berusaha.
Yang lain?
Ya tetap saja serba salah. (*)

0 Komentar